| |
 (Terima kasih Buat Mas Doni Yang dah menulis Cerpen Buat Dee) ROSE MERAH DI MUKA PINTU......... Setiap helai kelopak merahnya adalah harapan. Setiap saat gugur kelopaknya, ia ikut sedih dan muram. Namun ia sadar perlu segera menyiram kembali. Kemudian dalam dekapan sinar surya, kelopak itu tumbuh kembali, dari kecil hingga membesar, memerah, dan segar seperti kehidupannya.
Setiap pagi ia mekar penuh menampilkan kemolekan bentuk dan warnanya, keindahannya adalah ucapan selamat pagi kepada sang mentari yang selalu mencintainya.
“Aku menanammu, aku merawatmu, aku juga menjadi saksi atas kelopakmu yang senantiasa tumbuh, gugur, tumbuh lagi, gugur lagi, dan begitu selalu. Biarlah kamu menjadi temanku yang selalu didekatku.” Kata-kata itu yang selalu ia gumamkan setiap menyiramkan air dan membersihkan guguran daun yang mengering dibawah pohonnya.
Ia bahkan rela mempersembahkan air matanya sebagai penyiram ketika bumi menjadi kerontang tak bersahabat.
Rumah itu begitu rindang, begitu lebat dengan berbagai dedaunan, begitu warna-warni dengan hiasan bunga disana-sini. Tetapi muka teras rumahnya berhiaskan jajaran pohonan bunga Ros saja..ya, bunga mawar yang disukainya. Ada yang merah, ada pula yang jingga. Tetapi ia lebih suka yang merah. Begitu juga yang ia letakkan dalam vas botol diatas meja. Beberapa tangkai Ros merah ia letakkan dengan rapi dalam vas berisi air bening itu. Ia tak suka terlalu sebenarnya, bukan tak suka kembang Ros merahnya, tetapi meletakkan bunga-bunga mawar yang dipetik dari pohonnya kedalam sebuah Vas itu ia lakukan daripada bunga-bunga itu terbuang di tempat sampah.
Ya begitulah…karena bunga-bunga di dalam Vas itu bukan dari kebun bunganya dimuka pintu rumah. Ia menerimanya dari pemberian kekasih yang ia sayangi, yang selalu memberinya kembang Ros merah sebagai rasa sayangnya. Sedangkan kembang Ros di muka pintunya, ia lebih memilih membiarkan bunga-bunga mawar di terasnya jatuh termakan usia dan gugur di atas tanah dengan sendirinya. Ia menanam kembang Ros merah di muka pintunya juga untuk menyambut kekasihnya. Sebagai tanda pula bahwa ia selalu merindui kekasihnya.
*** Di suatu senja yang gerimis, di sebuah kota perbatasan.
Rumah sederhana itu kupandangi laksana keraton berkemilauan aura. Pagar kayu yang berhias daun-daun basah itu, seperti sebuah tembok benteng kokoh yang menciutkan nyali yang hendak memasukinya. Bahkan pintu rumah yang telah hafal dengan uluk salamkupun seolah berubah menjadi gerbang besar dengan daun pintu tebal dan berkusen besar pula. Semua yang telah akrab di mataku, hari itu tak seperti biasanya. Entahlah..aku begitu kecil dan tak berarti rasanya, belum lagi jika kupikirkan bagaimana nanti jika berhadapan dengan empunya rumah. Kecil sekali rasanya keberanianku untuk menjangkah lebih dekat.
Tapi seikat Ros merah ditanganku berkata lain, ia tak sekedar menunjukkan keberanian pada warna merahnya, tetapi juga menusuk-nusukkan duri kecil pada batangnya di lipatan lenganku. Sakit seperti dicubit..dan aku tercubit seperti tersadar dari mimpi.
Ya..aku sadar tetap harus melangkah, aku harus menghadiahkan padanya Ros merah kesukaannya ini. Sebab jika tidak, hari esok sudah segar lagi, dan hari esok bukan lagi hari ulang tahunnya. Tak ada yang hebat dengan ide hebat tetapi terlambat.
Aku tidak mau terlambat menghadiahkan bunga Ros yang kupetik dan kurangkai sendiri ini. Biasanya kubeli saja dari kedai bunga di pinggir alun-alun kota, seikat kembang Ros yang telah tertata rapi dengan plastik pembungkus bergambar mawar pula. Kadang kubawakan untuknya dikala ia sakit, kadang dikala kami lama tak berjumpa, atau yah..kadang-kadang tanpa tujuan dan event apa-apa. Kali ini tidak, aku memetiknya sendiri dari beberapa tempat. Dari pohon kembang Ros di pagar rumahku dan dari taman kota yang tadi kulewati, lalu kuikat dengan plastik polos tanpa gambar. Aku tak mengguntingi duri-duri kecil di batangnya seperti yang biasa dilakukan pedagang bunga di pinggir alun-alun kota. Kali ini, biarlah Ros merah ini tampil seutuhnya, karena ia adalah aku. Ros itu akan menjadi simbolku pada dirinya.
Kini, aku tepat dimuka teras rumahnya. Masih sedikit tak tenang perasaanku. Aku belum lagi beruluk salam, masih berdiri saja di depan pintu rumahnya di samping dua rumpun pohon kembang Ros merah pula yang ia tanam di muka pintu. Aku menatap dua tangkai yang menjulangkan kembang Ros merah merekah. Kemerahan tua sebenarnya, tanda bahwa sebentar lagi kelopaknya akan berguguran. Sejenak kupandangi, lalu kupetik dua tangkai itu, kuselipkan ditengah rangkaian yang telah kuikat dengan plastik polos ditanganku. Hmm..kini rangkaian Ros merahku berasal dari tiga tempat, pagar rumah, taman kota, dan dari muka pintu rumahnya.
Sesaat setelah aku uluk salam, ia membukakan pintu seperti biasa.
Ia tersenyum, dan melangkah ke arahku. Tak ada roman muka kaget atau terharu pada kedatanganku dengan serangkai kembang Ros merah di tangan. Barangkali baginya itu sudah biasa.Ia cuma sedikit mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. Tatapan matanya ke arah kerah kemeja putihku, lalu turun perlahan memandangi ujung kemeja yang tak kumasukkan, lalu ke pantalon krem cerah bawahanku, dan berhenti diujung kakiku yang terbungkus rapi dalam sendal selop coklat muda.
“ Kamu rapi sekali hari ini..” katanya.
Aku berdiam saja..sedikit senyum kuberkan untuknya.
“ Ada yang special ya hari ini? ” dia menyela pelan.
Hanya sedikit kernyitann pada dahiku ku berikan sebagai jawabannya.
“ Apa?...itu bunga Ros merah untukku kan?” ia bertanya lagi..
Aku masih diam saja, hanya kupandangi wajahnya lalu bunga Ros di lenganku bergantian.
“ Hei..selain rapi, kamu juga beda hari ini, kok diem aja?”
Aku mendekat, kutatap dalam-dalam mata sayu-nya.
“ Apa yang membuatmu begitu diam?”
Aku tersenyum, masih kutatap matanya, lalu kusapu wajahnya dengan pandanganku juga. Dia menggerakkan tangannya memegang tangan kananku yang sedang menggenggam ujung rangkaian bunga Ros merah.
“ Kamu beda hari ini, kamu begitu rapi dengan busana cerahmu, kamu juga sekedar berdiri tanpa banyak bicara. Biasanya kamu sering tertawa-tawa, hari ini kamu cuma punya senyuman.” Ia bucara pelan hampir bergumam sambil menatap mataku juga.
Aku mengusapi genggamannya dengan tangan kiriku. Lalu kubelai rambut panjangnya.
“ Kenapa? Apa yang membuatmu beda begitu? Ayolah..aku bukan perempuan asing bagimu, rumah inipun bukan tempat yang jarang kau datangi, bahkan..bunga Ros merah itupun tak sekali ini kau berikan padaku..“
Aku mencondongkan badan kedepan sedikit saja, lalu kucium mesra keningnya.
Lalu kupandangi lagi matanya dalam-dalam.
“ Kamu masih sayang aku kan?” ia bertanya perlahan dengan sedikit getar pada genggamannya yang semakin erat dan hangat.
Hening sekali disekitar kami.
Sore yang gerimis telah berubah menjadi petang dengan iringan suara serangga bersautan. Angin berhembus pelan, menyebarkan aroma wangi pada Ros merah itu di hidung kami. Lampu kecil di atap teras menyinari rambut, dahi, dan ujung hidungnya yang cantik lancip.
Masih kutatap matanya, dengan sedikit mundur kemudian aku berlutut didepannya.
“ Aku tetap menyayangimu Dee..tak kan pernah berubah”
Dia membalas kata-kataku dengan senyumnya.
“ Selamat Ulang Tahun Dee..Kembang Ros merah ini kurangkai untukmu..”
Kulepaskan genggamanku pada ujung rangkaian Ros merah itu, ia menerimanya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
Aku berdiri. Kutatap lagi matanya, kupandangi wajahnya, lalu berhenti pada bibir tipisnya yang hendak berkata-kata.
“ Hei..apa kamu lupa, ini bukan hari kelahiranku..bukan hari ulang tahunku..”
“ ini hari ulang tahunmu Dee..ini hari dimana kamu dilahirkan..”
“ Bukan…” bantahnya.
“ Iya Dee..hari ini kamu dilahirkan..”
“ Kamu aneh..dari tadi kamu tidak seperti biasanya..datang dengan busana rapi serba cerah, lalu lebih benyak senyum dan tak banyak bicara, lalu sekarang bicara yang aneh pula. Ini bukan hari ulang tahunku mas..kok maksa sih” bantahnya lagi.
“ Dee..aku ingin kamu lahir kembali hari ini. Aku ingin kamu mengawali lagi semuanya. Aku ingin kamu mengulang tahun-tahun hidupmu. Nggak usah cemas, aku tetap menyayangimu..”
Dia masih diam keheranan atas kata-kataku.
“ Dee..hadiah ulang tahun untukmu hari ini pun beda.”
“ Apa yang beda, kamu sudah sering memberikan kembang mawar begini padaku. Dan aku selalu suka bunga-bunga mawar pemberian darimu. Aku suka bunga mawar. Jadi gak ada yang beda mas, kamu sudah sering memberi bunga mawar padaku” Tukasnya.
“ Beda Dee…aku merangkainya sendiri hari ini. Bukan dari kedai bunga. Kukerjakan dengan tanganku sendiri. Cobalah kamu tengok kembang itu.” Kataku pelan dengan tetap menatap matanya.
Ia memandangi rangkaian bunga Ros merah itu.
“ Hmm..ya..ya..bungkus plastiknya tak bergambar mawar seperti biasanya.”
Lalu ia mulai membuka ikatan plastiknya untuk memegangi tangkai-tangkai Ros merah dalam bungkus plastik itu…dan..
“ Aduh..” ia mengaduh dan kaget sambil menarik cepat jari telunjuknya. Aku melihat setitik kecil warna merah diujungnya. Ia tertusuk duri kecil mawar itu rupanya. Cepat kuraih telapak tangannya dan memeriksanya.
“ Ini juga beda mas, biasanya Ros merah yang kau berikan telah terkikis rapi duri-durinya.Yang ini tidak, tangkainya masih penuh duri” Ia berkata pelan lagi ketika aku menggenggam telapak tangannya sambil mengusapi titik darah kecil di ujung jarinya dengan sapu tangan putihku.
“ tapi…tidak semua mas, ini ada dua tangkai yang telah terkisi durinya. Dan bunganya berbeda dengan tangkai-tangkai yang lain..ia tampak lebih tua. Seperti Ros merah yang hampir layu” ia berkata sambil menatap tajam tangkai tak berduri itu.
“ Ya Dee..dia memang lain. Kuambil dari tempat yang berbeda pula sebelum kurangkai jadi satu dengan lainnya. Itu juga yang membuat hadiah ini beda dengan Ros Merah sebelumnya yang pernah kuberikan padamu.” Kataku sambil menyimpan kembali sapu tanganku dalam saku pantalon.
“ Darimana kau petik kembang-kembang Ros ini, mas?”
“ Yang masih berduri, kupetik dari halamanku sendiri dua tangkai, lalu dari taman kota yang tumbuh didekat tempat kita sering duduk berdua.”
“ Kalau yang bertangkai rapi dan sudah tak berduri?”
“ Aku ambil dari muka pintu rumahmu, Dee..”
Aia menatap heran, lalu menghindari tatapan mataku sejenak, mengalihkan pandangannya pada dua rumpun pohon Mawar Merah di muka pintu rumahnya, tepat dibelakang tempatku berdiri.
Lalu ia menatapku kembali..kali ini begitu dalam dan nampak cemas dan berkata pelan.
“ ..Tapi pohon mawar di rumahku hanya berbunga dua tangkai mas, dan telah kupetik kemarin pagi, lalu kubawa serta dan aku…”
“..Kamu letakkan diatas pusaraku…”
“..Mas…” lalu ia diam dengan genggaman yang lebih erat pada tanganku. Aku juga diam. Angin bergerak pelan..suara-suara serangga malam bersautan menjauh mendekat diterpa hembusnya. Suara kami juga perlahan hilang direngkuhnya..
DONiTO Januari 08

 | great story ... selamat yach ... cinta |
 | Hmmm.....pengarangnya yang pinter nih mas...hehe |
 | ohh, bisa minta ilmunya neh.. |
 | Hmm....Mas Ivan sendiri kan pandai buat cerpen sama puisi juga...... |
 | ga bisa put...kebetulan aj |
 | Gpp mas...putri bisa ngerti kok.....
|
 | ngerti apanya??? Koq jd o'on gn ya) |
 | Ngerti maksut putri disini saat kita sedang berhadapan dgn persoalan tanpa sengaja kita akan bisa merangakai kata2 apa yang ada dlm pikiran dan isi luapan ...hehehe emang dikira apa hayoooo? Karena hal yang sama juga sering putri alami ,,,trus akhirnya jadi deh coret2an.....:) |
 | lo koq aku ga pernah bgt ya...mengalir aj... kapan mau biasanya suka jadi... |
 | Kebawa perasaan akan lebih mudah mendapatkan kata2 yang sesuai.... Putri off dulu mas Ivan ...mau pergi... c u |
 | wow.............nice story................did you ve another story,,,,,,,,,,,,,,,, |
 | Ya begitulah…karena bunga-bunga di dalam Vas itu bukan dari kebun bunganya dimuka pintu rumah. Ia menerimanya dari pemberian kekasih yang ia sayangi, yang selalu memberinya kembang Ros merah sebagai rasa sayangnya. Sedangkan kembang Ros di muka pintunya, ia lebih memilih membiarkan bunga-bunga mawar di terasnya jatuh termakan usia dan gugur di atas tanah dengan sendirinya. Ia menanam kembang Ros merah di muka pintunya juga untuk menyambut kekasihnya. Sebagai tanda pula bahwa ia selalu merindui kekasihnya.
Dilla sayang....cinta yang abadi memang tak akan pudar oleh waktu tapi sekarang cinta itu akan selalu menemani Dilla....dari Ibu,seluruh keluarga,jg teman2 yang selalu mencintai mu...terlebih teteh juga akan selalu mencintai Dilla seperti kepada adik sendiri,jd tetaplah semangat dan berjuang demi cinta2 yang sekarang mereka berikan kepada Dilla. |
 | wow.............nice story................did you ve another story,,,,,,,,,,,,,,,,  thanks for the comment.....of course i have... |
 | Buat Teteh Tini tersayang...... Terima kasih atas semanggat dan doa yang teteh berikan buat dilla Begitu banyak perhatian teteh buat dilla....sampai salut Dilla juga sedang mencoba .....tp masih saja ingat........ |
 | Nice story sayang.....ikut terharu bacanya... Tetep semanggat adekku maniz....Masa depanmu masih panjang kk dari jauh berdoa buatmu.....

|
 | Terima kasih kk sayang....atas doanya.... adek akan coba...pasti bisaaaaa...cia yoooo...!! |
 | mmm....ceritanya bagus, mba..., banget..., tapi sayang font colour-nya mba, jadi agak susah dibaca nih... :) Btw, fans berat bunga mawar nih ya, Mba....:) |
 | Thanks so much My Sweet Rocker Brotha......Hehehe Wow...great video....putri love it bro... Go to Rock `on Brotha......Thumb up..!!! |
 | Malam adek sayang...kk nga bisa masuk guestbook... Take care dear....semoga sehat dan ceria selalu...amin  & |
 |  & Semoga senyum selalu adekku...... |
 | malam say....lama ngak dengar kabarmu miss u beibezh....bagus sekali cerpennya..... font warna diganti dong say,ngak jelas bacanya....hehe |
 | Malam juga Van...alhamdulillah kabar dilla baik dan sehat Semoga Ivan di jakarta juga sama ....terima kasih dah baca Dilla dah coba ganti warna tp nga terus ...besuk mau tanya sama kkku Miss u too.....take care... |
 | Buat kak Rembulan: Iya kk adek masuk GB orang lain juga nga bisa comment Terima kasih atas perhatian ,doa dan rosenya yg cantik2 buat adek Semoga kk senantiasa dalam kebahagiaan dan keceriaan juga amien.....:) |
 | Mas Rawin sutradaranya ya?....hehe |
 | perlu dibuatkan buku nih hihii |
 | Sis aja yang buat ya....hihi Terima kasih....:) |
 | hihi gubrakkss... *benjol.. yu mari kita buat buku...sambil kopdaran *yang ada keseringan ngobrolnya yak |
 | Lho kok ada panci jatuh disini sis...hihi Duh kopdarnya dimana nih? |
 | Hehehe...blom dikecilin kompornya tuh sis... Kalau di Jkt harus tunggu dilla cuti pulang dulu sis.... |
 | boleeeeh sis....ditunggu....PM aku ajaaaa |
 | Insya Allah ya sis..klu dah deket mau pulang tak kasih informasi di MP.....Yeeeeeeee....!!! |
 | Ya silahkan aja di baca artikel diatas.... |
 | Thank say dah ganti font warna....aq kembali baca lagi ...  |
 | Silahkan Van...Makasih buat bunga Rosenya.... Cantik sekali...:D |
 | aku suka banget rose,bagus nich thanks yach |
 |  BUNGA MAWAR BUATMU SAY... |
 | Lembur juga adinda ini. Untuk posting ini perlu dicarikan penerbit |
 | Bukan lembur kanda...tp dah nglilir sholat malam Iseng2 buka MP nga bisa bo2k lagi....:) |
 | waduhh kok panjang amat mata sampek pedihh nihh |
 | Hehehe...pelan2 aja bacanya mas... |
 | Otto kaget sampe merinding..... Selalu saja begini, romantis, namun menyakitkan.... |
 | Hehehe....kok bisa kaget & merinding sih Otto..... Tp nga semua kan....terima kasih.... |
 | Anak kecil boleh baca engga..? |
 | Minta izin dulu sama ayah dd dulu sana yah....
|
 | Tante nga tanya umurnya ayah dd... |
 | Kalo belom 17 taun boleh engga..? |
 | Nga boleh....kenapa dd nga sekolah sih... |
 | Anak kecil boleh sekolah ya, tante..? |
 | berarti aku gak boleh baca donks
|
 | Alfin dah masuk disini dari tadi kan.... Pasti dah baca deh...hehehe Thanks |
 | Tapi kan ga sekolah, tante... |
 | rawins itu beneran anak kecil?
|
 | Alfin mau baca silahkan aja.. Ini bacaan buat semua yg kunjung di site dilla... yg di foto itu anaknya mas Rawin namanya Adi....jadi yg bawa jalan2 ayahnya Adi.... |
 | Emang engga sekolah. kan abis bagi rapot.. Nama ayah eko, bukan idris. Idris tuh temennya idrus. idrus temennya idris juga. jadi idris temennya idrus. idris ama idrus temenan.. ora lomboan.. |
 | sorry aku gak minat baca
'aku gak suka baca' |
 | sorry aku gak minat baca
'aku gak suka baca' aku mau tante dilla.... |
 | Dear....Adi sama Alfin...jangan berantem disini.... Dilla mau pergi dulu....makasih C u next time..... |
 | Tar sore kalo dah pulang mandiin ama suapin lagi ya, tanteee... |
 | hiish nakal kieh bocah...
yayank dila mau kemana...? |
 | Iya tuch yank dek Adi kalau kesini gangguin dilla aja... Dilla masih di kerjaan yank...cuma tadi dikit repot aja. |
 | Di tamanku tumbuh bunga mawar.......yang selalu menunggu kedatanganmu sayang..... Nice song & great story dear........i mizz bebi...   |
 | Terima kasih juga sayang ...telah menanam mawar itu buatku... Miss u too dear.....thank buat mawar merahnya.....:) Hugs & kiss too... |
 | Great story Girl ...thank for share with us... miss u & take care.....hugs |
 | Thank you sweety....you are most welcome..... Mizz u & take care too....hugs & kiss. |
 | Siapa ibu tiri dek....hik hik. |
 | Yang lebih kejam dari pada pembunuhan... |
 | Itu namanya bukan ibu tiri dek....tapi FITNAH.... |
 | Oooo... ganti ya.. Kok ga bagi-bagi bubur merah putih sih, tante... |
 | Tante nga bikin bubur merah putih ,kayak bendera negara kita aja... Tadi aja tante makan mie goreng di kerjaan.... |
 | Mie goreng merah putih ada engga..? |
 | Adi tanya saja sama Ayah dd di rumah... Tante masih sibuk kerja...... |
 | Marah ya..? Ga boleh main ya..? Tante jahat ya..? Tante ya..? |
 | Iya marah..abisnya kecil2 tp aneh2 aja pertanyaanmu.... Kan tadi dah di bilang tante galak...sadis suka mukul dll... |
 | wew pake ngatain sadis segala |
 | Hehehe..semua bercanda kok Alfin.... Yang bilang bukan Adi ...tp dilla sendiri bilang Kalau dilla ini orgnya jahat,sadis suka mukul dan galax gituh....heheheh Jangan salah paham.... |
 | ohhh, ku kira beneran sadis |
 |  Semoga keadaanmu sehat2 selalu sayang....take care dear. |
 | Makasih sayang..keadaan dilla baik2 saja.you too take care...:) |
|
|